Pkskelapadua.com, - Ditinjau dari segi bahasa, sedikitnya terdapat tiga arti dari kata syahadat, ketiga makna tersebut adalah :
Pertama, (الإعلان/ الإقرار) Pernyataan. Mengenai arti kata ini, Allah Ta’ala menyebutkan dalam Al-Qur’an (QS. 3 : 18) :
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Seseorang yang bersyahadat, berarti ia telah menyatakan sesuatu, sesuai dengan apa yang dinyatakannya. Dalam hal ini seseorang menyatakan bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwanya Muhammad adalah utusan Allah.
Kedua, (القسم / الحلف) Sumpah. Seperti disebutkan dalam firman Allah (QS. 24 : 6):
“Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar.”
Seseorang yang bersyahadat, maka ia sesungguhnya telah menyatakan diri dengan bersumpah, bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.
Ketiga, (العهد / الوعد) Perjanjian. Allah berfirman (QS. 2 : 84) :
“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu (yaitu): kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya) sedang kamu mempersaksikannya.”
Seorang yang bersyahadat, sesungguhnya ia telah berjanji kepada Allah SWT untuk mentauhidkan-Nya (tiada tuhan selain Allah), demikian juga berjanji untuk mengakui dan mengikuti nabi Muhammad sebagai utusan Allah.
Pernyataan Keimanan
Jadi, yang dimaksud syahadat disini adalah pernyataan, sumpah, dan janji keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya. Karena awal kesempurnaan keimanan adalah اِقْرَارٌ بِاللِّسَانِ (ikrar dengan lisan), yang kemudian diikuti dengan تَصْدِيْقٌ بِالْقَلْبِ (membenarkannya di dalam hati) dan عَمَلٌ بِالْاَرْكَانِ (mengamalkannya dengan anggota tubuh).
Setiap muslim harus memiliki kesadaran bahwa syahadat ini adalah sebuah pernyataan, sumpah, dan janji keimanan kepada Allah. Maka sesuai dengan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, setelah menyatakan beriman kepada Allah, setiap kita harus berupaya untuk beristiqamah (berpegang teguh) kepadanya.
Dari Abu Amr, -ada juga yang mengatakan- Abu ‘Amrah, Suufyan bin Abdillah Ats-Tsaqofi radhiallahu anhu dia berkata, saya berkata, “Wahai Rasulullah–shollallohu ‘alaihi wa sallam–katakan kepada saya tentang Islam sebuah perkataan yang tidak saya tanyakan kepada seorangpun selainmu”. Beliau bersabda, “Katakanlah, saya beriman kepada Allah, kemudian berpegang teguhlah (istiqomah-lah)”. (HR. Muslim)
Buah dari Istiqamah
Seorang mu’min yang istiqamah dalam keimanannya akan memperoleh kekuatan dari Allah Ta’ala; di dalam jiwanya akan tertanam:
اَلشَّجَاعَةُ (keberanian)
اَلْاِطْمئِنَانُ (ketenangan)
اَلتَّفَاؤُلُ (optimisme)
Hal ini seperti telah difirmankan oleh Allah Ta’ala,
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (Q.S. 41: 30)
Kepada orang yang beriman dan berpendirian teguh dengan tidak mempersekutukan-Nya, Allah menurunkan malaikat yang menyampaikan kabar menggembirakan, memberikan segala yang bermanfaat, menolak kemudaratan, dan menghilangkan duka cita yang mungkin ada padanya dalam seluruh urusan duniawi maupun ukhrawi. Dengan demikian, dadanya menjadi lapang dan tenteram, tidak ada kekhawatiran pada diri mereka (lihat: Al-Qur’anul Karim wa Tafsiruhu, Jilid VIII, hal. 617).
Waki’ dan Ibnu Zaid berpendapat bahwa para malaikat memberikan berita gembira kepada orang-orang yang beriman pada tiga keadaan yaitu, ketika mati, di dalam kubur, dan di waktu kebangkitan.
Kepada orang-orang yang beriman itu para malaikat mengatakan agar mereka tidak usah khawatir menghadapi hari kebangkitan dan hari perhitungan nanti. Mereka juga tidak usah bersedih hati terhadap urusan dunia yang luput dari mereka seperti yang berhubungan dengan keluarga, anak, harta, dan sebagainya.
Maka orang-orang yang bersyahadat dengan benar, akan memperoleh as-sa’adah (kebahagian), di dunia dan akhirat. Wallahu A’lam…
Pertama, (الإعلان/ الإقرار) Pernyataan. Mengenai arti kata ini, Allah Ta’ala menyebutkan dalam Al-Qur’an (QS. 3 : 18) :
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Seseorang yang bersyahadat, berarti ia telah menyatakan sesuatu, sesuai dengan apa yang dinyatakannya. Dalam hal ini seseorang menyatakan bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwanya Muhammad adalah utusan Allah.
Kedua, (القسم / الحلف) Sumpah. Seperti disebutkan dalam firman Allah (QS. 24 : 6):
وَالَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ شُهَدَاءُ إِلاَّ أَنْفُسُهُمْ فَشَهَادَةُ أَحَدِهِمْ أَرْبَعُ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ إِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ
“Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar.”
Seseorang yang bersyahadat, maka ia sesungguhnya telah menyatakan diri dengan bersumpah, bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.
Ketiga, (العهد / الوعد) Perjanjian. Allah berfirman (QS. 2 : 84) :
وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ لاَ تَسْفِكُونَ دِمَاءَكُمْ وَلاَ تُخْرِجُونَ أَنْفُسَكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ ثُمَّ أَقْرَرْتُمْ وَأَنْتُمْ تَشْهَدُونَ
“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu (yaitu): kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya) sedang kamu mempersaksikannya.”
Seorang yang bersyahadat, sesungguhnya ia telah berjanji kepada Allah SWT untuk mentauhidkan-Nya (tiada tuhan selain Allah), demikian juga berjanji untuk mengakui dan mengikuti nabi Muhammad sebagai utusan Allah.
Pernyataan Keimanan
Jadi, yang dimaksud syahadat disini adalah pernyataan, sumpah, dan janji keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya. Karena awal kesempurnaan keimanan adalah اِقْرَارٌ بِاللِّسَانِ (ikrar dengan lisan), yang kemudian diikuti dengan تَصْدِيْقٌ بِالْقَلْبِ (membenarkannya di dalam hati) dan عَمَلٌ بِالْاَرْكَانِ (mengamalkannya dengan anggota tubuh).
Setiap muslim harus memiliki kesadaran bahwa syahadat ini adalah sebuah pernyataan, sumpah, dan janji keimanan kepada Allah. Maka sesuai dengan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, setelah menyatakan beriman kepada Allah, setiap kita harus berupaya untuk beristiqamah (berpegang teguh) kepadanya.
عَنْ أَبِي عَمْرو، وَقِيْلَ : أَبِي عَمْرَةَ سُفْيَانُ بْنِ عَبْدِ اللهِ الثَّقَفِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ قُلْ لِي فِي اْلإِسْلاَمِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَداً غَيْرَكَ . قَالَ : قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ [رواه مسلم]
Dari Abu Amr, -ada juga yang mengatakan- Abu ‘Amrah, Suufyan bin Abdillah Ats-Tsaqofi radhiallahu anhu dia berkata, saya berkata, “Wahai Rasulullah–shollallohu ‘alaihi wa sallam–katakan kepada saya tentang Islam sebuah perkataan yang tidak saya tanyakan kepada seorangpun selainmu”. Beliau bersabda, “Katakanlah, saya beriman kepada Allah, kemudian berpegang teguhlah (istiqomah-lah)”. (HR. Muslim)
Buah dari Istiqamah
Seorang mu’min yang istiqamah dalam keimanannya akan memperoleh kekuatan dari Allah Ta’ala; di dalam jiwanya akan tertanam:
اَلشَّجَاعَةُ (keberanian)
اَلْاِطْمئِنَانُ (ketenangan)
اَلتَّفَاؤُلُ (optimisme)
Hal ini seperti telah difirmankan oleh Allah Ta’ala,
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (Q.S. 41: 30)
Kepada orang yang beriman dan berpendirian teguh dengan tidak mempersekutukan-Nya, Allah menurunkan malaikat yang menyampaikan kabar menggembirakan, memberikan segala yang bermanfaat, menolak kemudaratan, dan menghilangkan duka cita yang mungkin ada padanya dalam seluruh urusan duniawi maupun ukhrawi. Dengan demikian, dadanya menjadi lapang dan tenteram, tidak ada kekhawatiran pada diri mereka (lihat: Al-Qur’anul Karim wa Tafsiruhu, Jilid VIII, hal. 617).
Waki’ dan Ibnu Zaid berpendapat bahwa para malaikat memberikan berita gembira kepada orang-orang yang beriman pada tiga keadaan yaitu, ketika mati, di dalam kubur, dan di waktu kebangkitan.
Kepada orang-orang yang beriman itu para malaikat mengatakan agar mereka tidak usah khawatir menghadapi hari kebangkitan dan hari perhitungan nanti. Mereka juga tidak usah bersedih hati terhadap urusan dunia yang luput dari mereka seperti yang berhubungan dengan keluarga, anak, harta, dan sebagainya.
Maka orang-orang yang bersyahadat dengan benar, akan memperoleh as-sa’adah (kebahagian), di dunia dan akhirat. Wallahu A’lam…
Sumber: al-intima.com
sumber : pkskelapadua.com
No comments:
Post a Comment